Dunia kedokteran Indonesia tengah berduka atas wafatnya dr. Myta Aprilia Azmy, seorang dokter muda yang sedang menjalani masa internship di Jambi. Ia mengembuskan napas terakhir setelah menjalani perawatan intensif di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang pada Jumat, 1 Mei 2026.

Kepergian dr. Myta tidak hanya meninggalkan duka mendalam, tetapi juga memicu perhatian luas publik. Hal ini terjadi setelah muncul berbagai narasi di media sosial yang menyebutkan bahwa almarhumah diduga tetap menjalankan tugas medis meskipun kondisi kesehatannya menurun drastis.

Sosok Dokter Muda Penuh Dedikasi

dr. Myta Aprilia Azmy dikenal sebagai alumni Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya yang memiliki dedikasi tinggi terhadap profesinya. Ia dikenal sebagai pribadi yang hangat, empatik, dan memiliki komitmen kuat dalam memberikan pelayanan kesehatan terbaik kepada pasien.

Dalam profil profesionalnya, dr. Myta pernah menuliskan bahwa dirinya sangat menikmati pekerjaannya sebagai dokter dan selalu berusaha memberikan yang terbaik dalam setiap situasi klinis. Baginya, dunia medis bukan sekadar profesi, melainkan panggilan jiwa untuk membantu sesama.

Di luar aktivitasnya sebagai tenaga medis, ia juga dikenal sebagai pribadi yang sederhana. Ia menyukai hewan, terutama kucing, serta memiliki sisi santai dengan bermain gim sebagai cara melepas penat dari tekanan kerja di rumah sakit.

Dalam perjalanan hidupnya, keluarga menjadi fondasi utama bagi dr. Myta. Ia kerap menyebut orang tua dan adiknya sebagai sumber motivasi terbesar dalam menjalani pendidikan hingga praktik kedokteran.

Dukungan keluarga tersebut menjadi energi penting bagi dirinya untuk melewati berbagai tantangan, termasuk masa internship—fase penting bagi dokter muda sebelum dapat berpraktik secara mandiri.

dr. Myta menjalani masa internship di RSUD KH Daud Arif Kuala Tungkal. Program internship sendiri merupakan tahap wajib bagi dokter muda selama satu tahun sebagai bagian dari proses profesionalisasi.

Namun, masa ini juga dikenal sebagai periode yang penuh tekanan. Para dokter internship dituntut untuk beradaptasi dengan beban kerja tinggi sambil terus belajar secara praktis di lapangan.

Dugaan Beban Kerja Berlebihan

Sorotan publik semakin tajam setelah muncul laporan bahwa kondisi kesehatan dr. Myta telah menurun sejak Maret 2026. Meski demikian, ia diduga tetap dijadwalkan untuk bertugas, termasuk menjalani jaga malam saat kondisi fisiknya tidak stabil.

Dalam laporan yang disampaikan oleh Ikatan Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya, disebutkan bahwa dr. Myta sempat mengalami sesak napas berat dan demam tinggi, bahkan saturasi oksigennya dilaporkan sempat turun hingga 80 persen sebelum akhirnya mendapatkan penanganan intensif.

IKA FK Unsri juga menyoroti sejumlah dugaan pelanggaran, seperti:

  • Beban kerja tanpa hari libur selama berbulan-bulan
  • Minimnya supervisi dokter definitif
  • Keterbatasan fasilitas medis dan obat-obatan
  • Tekanan lingkungan kerja, termasuk dugaan perundungan verbal

Beberapa laporan bahkan menyebut adanya stigma terhadap dokter muda yang mengeluhkan kondisi kerja, seperti label “generasi Z lembek”.

Desakan Investigasi dan Evaluasi Sistem

Kasus wafatnya dr. Myta Aprilia Azmy kini menjadi perhatian serius di kalangan tenaga kesehatan. IKA FK Unsri secara resmi mendesak pemerintah, khususnya Kementerian Kesehatan RI, untuk melakukan investigasi menyeluruh dan transparan.

Mereka juga mendorong adanya audit terhadap sistem kerja dokter internship di Indonesia agar sesuai dengan regulasi yang berlaku, di mana dokter internship seharusnya berstatus sebagai peserta pelatihan, bukan tenaga kerja penuh tanpa perlindungan.

Tragedi ini diharapkan menjadi titik balik untuk memperbaiki sistem pendidikan dan kerja dokter muda di Indonesia. Perlindungan terhadap tenaga medis, khususnya dokter internship, dinilai sangat penting agar kejadian serupa tidak terulang.

Pesan terakhir dr. Myta yang ia tuliskan di media sosial kini menjadi pengingat yang menyentuh:

“Terima kasih kepada diri saya sendiri karena telah hadir, berkembang, dan tetap berkomitmen untuk menjadi lebih baik.”

Sebuah kalimat sederhana yang mencerminkan dedikasi, perjuangan, dan ketulusan seorang dokter muda dalam mengabdi kepada masyarakat.