Penulis: Heydi Fayyaz Baihaqi Siswanto*

Perkembangan teknologi kecerdasan buatan telah membawa perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk dalam cara informasi diproduksi dan disebarkan. Jika pada masa lalu propaganda identik dengan poster politik atau siaran radio yang dikendalikan negara, kini propaganda dapat hadir dalam bentuk gambar, video, bahkan suara yang tampak sangat realistis. Fenomena ini menunjukkan bahwa perkembangan teknologi tidak hanya menciptakan peluang baru bagi inovasi, tetapi juga membuka ruang bagi manipulasi informasi yang semakin canggih.

Salah satu teknologi yang paling sering dibicarakan dalam konteks ini adalah deepfake, yaitu teknik berbasis kecerdasan buatan yang mampu memanipulasi gambar atau video sehingga terlihat seolah-olah benar terjadi. Dengan teknologi ini, seseorang dapat membuat video tokoh publik yang tampak sedang mengatakan sesuatu yang sebenarnya tidak pernah diucapkan. Kemampuan teknologi tersebut membuat batas antara realitas dan rekayasa digital menjadi semakin sulit dibedakan oleh masyarakat umum.

Dalam beberapa tahun terakhir, fenomena deepfake semakin sering muncul dalam berbagai konflik politik dan geopolitik. Ketegangan antara Iran dan Israel, misalnya, menunjukkan bagaimana ruang digital menjadi arena baru dalam perebutan narasi. Selama meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah, berbagai gambar dan video yang menggambarkan serangan militer, kerusakan wilayah, maupun keberhasilan operasi militer beredar luas di media sosial. Namun tidak sedikit dari konten tersebut yang ternyata merupakan hasil manipulasi atau bahkan sepenuhnya dihasilkan oleh teknologi kecerdasan buatan.

Penyebaran konten semacam ini menunjukkan bahwa propaganda modern tidak lagi terbatas pada teks atau berita yang bias. Visual yang dihasilkan oleh teknologi AI sering kali terlihat sangat meyakinkan sehingga mudah dipercaya oleh publik. Dalam situasi konflik internasional, gambar atau video yang dramatis dapat dengan cepat memengaruhi emosi masyarakat, baik di dalam negeri maupun di tingkat global. Akibatnya, propaganda visual menjadi alat yang sangat efektif dalam membentuk persepsi publik terhadap suatu peristiwa.

Selain tingkat realisme yang tinggi, faktor lain yang memperkuat propaganda digital adalah kecepatan penyebaran informasi melalui media sosial. Platform digital memungkinkan konten viral menyebar ke jutaan pengguna hanya dalam waktu singkat. Banyak pengguna internet cenderung langsung membagikan konten yang menarik perhatian tanpa terlebih dahulu memeriksa kebenarannya. Dalam kondisi seperti ini, informasi yang tidak akurat atau bahkan sepenuhnya palsu dapat dengan mudah menyebar lebih cepat dibandingkan klarifikasi atau verifikasi fakta.

Peran algoritma media sosial juga turut memperkuat fenomena tersebut. Sebagian besar platform digital dirancang untuk memprioritaskan konten yang menghasilkan interaksi tinggi. Konten yang bersifat emosional, sensasional, atau kontroversial biasanya lebih mudah mendapatkan perhatian publik. Akibatnya, konten propaganda yang dirancang secara strategis sering kali memiliki peluang lebih besar untuk menjadi viral dibandingkan informasi yang bersifat netral atau faktual.

Dampak dari propaganda berbasis AI tidak hanya terbatas pada penyebaran informasi yang salah. Dalam jangka panjang, fenomena ini dapat menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap media dan sumber informasi. Ketika publik terus-menerus dihadapkan pada berbagai narasi yang saling bertentangan, muncul kecenderungan untuk meragukan semua informasi yang beredar, termasuk informasi yang sebenarnya akurat. Kondisi ini dapat memperburuk kualitas diskursus publik dan memperdalam polarisasi sosial.

Dalam konteks hubungan internasional, perang informasi juga dapat memengaruhi persepsi global terhadap suatu konflik. Negara atau kelompok tertentu dapat memanfaatkan propaganda digital untuk membangun legitimasi politik, memperoleh simpati internasional, atau melemahkan posisi lawan di mata publik dunia. Dengan kata lain, kekuatan dalam konflik modern tidak lagi hanya ditentukan oleh kemampuan militer, tetapi juga oleh kemampuan mengendalikan narasi yang beredar di ruang digital.

Menghadapi tantangan ini, literasi media menjadi semakin penting bagi masyarakat. Kemampuan untuk memverifikasi informasi, memahami cara kerja teknologi digital, serta bersikap kritis terhadap konten yang beredar di internet merupakan keterampilan yang semakin dibutuhkan di era informasi. Selain itu, platform teknologi dan institusi media juga memiliki tanggung jawab untuk meningkatkan sistem verifikasi serta transparansi dalam pengelolaan konten.

Pada akhirnya, perkembangan kecerdasan buatan telah mengubah cara propaganda bekerja dalam dunia modern. Jika pada masa lalu propaganda dapat dikenali melalui sumbernya yang jelas, maka di era AI propaganda dapat muncul dalam bentuk yang jauh lebih halus dan meyakinkan. Oleh karena itu, tantangan terbesar masyarakat saat ini bukan hanya mengakses informasi, tetapi memastikan bahwa informasi yang diterima benar-benar mencerminkan kenyataan.

***

*) Penulis adalah Mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional Universitas Sriwijaya

**) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi radarbaru.com