Pendidikan pada hakikatnya bukan sekadar proses transfer ilmu, melainkan proses memanusiakan manusia. Dalam konteks ini, gagasan pendidikan humanis yang dirintis oleh Dr. Driyarkara dan semangat kemerdekaan belajar yang diwariskan oleh Ki Hajar Dewantara menemukan relevansinya yang semakin kuat di tengah dinamika zaman. Pendidikan tidak boleh berhenti pada pencapaian akademik semata, tetapi harus berakar pada pembentukan pribadi yang utuh; cerdas dalam berpikir, bijak dalam bersikap, dan berintegritas dalam bertindak.
Driyarkara memandang pendidikan sebagai upaya “pengangkatan manusia muda ke taraf insani”. Artinya, mendidik bukan hanya mencerdaskan otak, tetapi juga menghidupkan nilai, hati nurani, dan kebebasan batin murid. Pendidikan harus menghadirkan pengalaman yang membuat murid mampu mengenal, menghayati, dan mengamalkan nilai sebagai dasar hidup. Dengan demikian, pendidikan menjadi ruang pembentukan manusia merdeka, pribadi yang bahagia, reflektif, dan bertanggung jawab atas pilihannya sendiri. Di sinilah pendidikan menemukan makna terdalamnya, bukan sekadar mencetak lulusan, tetapi membentuk manusia yang utuh.
Pandangan ini selaras dengan realitas bahwa belajar adalah proses sepanjang hayat. Manusia tidak pernah berhenti belajar dari pengalaman, pergulatan, kegagalan, dan refleksi hidupnya. Dalam konteks Pendidikan dasar dan menengah, khususnya dalam komunitas sekolah yang berlandaskan “kurikulum merdeka”, proses belajar menjadi perjalanan transformasi diri. Keluar dari zona nyaman, memperbarui kompetensi, dan menata ulang cara pandang merupakan bagian dari proses menjadi pembelajar sejati. Pendidikan yang hidup adalah pendidikan yang menggugah kesadaran diri, bukan hanya mengisi pikiran.
Pengalaman belajar yang reflektif, misalnya melalui pendidikan karakter, menunjukkan bahwa inti dari pendidikan adalah pembentukan nilai etis. Etika bukan sekadar teori moral, tetapi dasar bagi seseorang untuk berpikir kritis dan bijak dalam mengambil keputusan. Pribadi yang berpendidikan dengan karakter yang utuh, akan mempertimbangkan dampak tindakannya bagi kesejahteraan bersama. Ia tidak hanya bertanya “apa yang benar bagi saya”, tetapi juga “apa yang baik bagi sesama dan masyarakat”. Di sinilah pendidikan karakter membentuk pribadi yang memiliki kepekaan sosial, tanggung jawab moral, dan orientasi pada kebaikan bersama.
Lebih jauh, pendidikan yang memerdekakan juga menuntut semangat “magis”, semangat untuk selalu menjadi lebih baik dari hari ke hari. Semangat ini bukan sekadar slogan, melainkan energi batin yang mendorong seseorang untuk terus bertumbuh, berjuang, dan memberi dampak positif bagi lingkungan. Optimisme menjadi fondasi penting dalam perjalanan pendidikan, sebab orang optimis melihat peluang dalam masalah, sedangkan orang pesimis melihat masalah dalam setiap peluang. Pendidikan sejati justru melatih keberanian menghadapi risiko dengan pikiran kritis dan kebijaksanaan, bukan menghindari tantangan.
Di sisi lain, relevansi pendidikan karakter semakin ditekankan dalam konteks generasi Z dan Alpha masa kini. Gagasan dasar tentang pribadi utuh yang mengacu pada aspek tentang arti pentingnya; 1). menjadi diri sendiri, 2). mampu menyelesaikan masalah, dan 3). mampu berkolaborasi, sesungguhnya merupakan refleksi dari pendidikan yang memerdekakan. Generasi Z dan Alpha tidak cukup hanya pintar, tetapi harus memiliki prinsip, daya juang, dan kemampuan bekerja sama dalam dunia yang semakin kompleks. Pendidikan harus menumbuhkan kemandirian berpikir sekaligus kebijaksanaan dalam bertindak.
Dalam kerangka etika dan karakter, pendidikan juga tidak dapat dilepaskan dari nilai-nilai Pancasila dan pembentukan integritas. Pendidikan karakter yang berlandaskan nilai kebangsaan akan melahirkan generasi yang tidak hanya kompeten secara intelektual, tetapi juga bermoral, adil, dan bertanggung jawab. Proses ini tidak instan, ia membutuhkan kurikulum yang kontekstual, pembelajaran bermakna, serta pendampingan yang memperhatikan bakat dan potensi setiap murid secara personal. Pendidikan yang menyeragamkan justru menghambat kemerdekaan individu untuk berkembang secara optimal.
Pemikiran Ki Hajar Dewantara melalui konsep “Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani” mempertegas bahwa pendidikan juga merupakan proses kepemimpinan. Guru sebagai pendidik bukan sekadar pengajar, tetapi teladan, motivator, dan pendamping. Kepemimpinan yang lahir dari pendidikan adalah kepemimpinan yang humanis, kepemimpinan yang membangun niat, memberi inspirasi, dan mendorong pertumbuhan orang lain. Pemimpin sejati tidak hanya cakap untuk dirinya sendiri, tetapi mampu mengembangkan potensi orang lain.
Paradigma Pedagogi Ignatian (PPI) yang meliputi konteks, pengalaman, refleksi, aksi, dan evaluasi menjadi pendekatan yang relevan untuk membentuk pribadi berkarakter utuh. Melalui refleksi atas pengalaman, murid belajar memaknai hidup secara lebih dalam. Dari refleksi lahir aksi, dan dari aksi lahir perubahan sikap serta perilaku yang lebih baik. Proses ini menegaskan bahwa hasil pendidikan bukan hanya nilai akademik, tetapi transformasi karakter.
Pada akhirnya, pendidikan yang memerdekakan adalah pendidikan yang mengintegrasikan olah pikir, olah rasa, dan olah kehendak. Pendidikan seperti ini akan melahirkan generasi berintegritas, kritis, kreatif, kolaboratif, dan berakhlak mulia, sejalan dengan profil Pelajar Pancasila dan cita-cita Indonesia Emas 2045. Dari ruang-ruang kelas yang humanis dan reflektif inilah akan lahir pemimpin masa depan yang berkarakter, berintegritas, dan memiliki harapan besar bagi bangsa.
Dengan demikian, pendidikan bukan hanya soal apa yang diajarkan, tetapi siapa yang dibentuk. Ketika pendidikan mampu memanusiakan manusia, memerdekakan pikiran, dan menumbuhkan karakter, maka di sanalah pendidikan menjalankan misi sejatinya; membentuk manusia yang tidak hanya cerdas, tetapi juga bijaksana, tidak hanya unggul, tetapi juga berbelarasa, serta tidak hanya berhasil untuk dirinya sendiri, tetapi juga mampu menginspirasi perubahan bagi dunia di sekitarnya.
Chr. Danang Wahyu P, S.Or., M.M
(Guru SMA Kolese De Britto Yogyakarta)




