Ada kebiasaan baru di banyak rumah tangga muda Indonesia menjelang Ramadhan. Bukan soal menu sahur, bukan pula daftar masjid untuk tarawih. Yang sering muncul justru obrolan sederhana di ruang keluarga, baju apa yang nanti kita pakai buat tarawih, dan dan baju lebaran apa yang dipakai seragaman saat Idul Fitri tiba. Intinya tentang bagaimana membangun cerita hari raya idul fitri bersama keluarga.

Percakapan itu terdengar sepele, tapi disitulah denyut kehidupan keluarga muda terasa. Mereka sedang belajar merayakan bulan suci bukan hanya dengan ibadah, tetapi juga dengan kebersamaan yang rapi, hangat, dan penuh makna. Ramadhan bagi pasangan muda sering menjadi momen pertama yang Istimewa. Ramadhan pertama setelah menikah, merayakan Idul Fitri pertama Bersama si mungil yang baru belajar tertawa, atau mudik pertama sebagai sebuah keluarga kecil yang utuh. Semua ingin dikenang indah sebagai momen penting dalam perjalanan hidup berkeluarga nantinya.

Maka persiapan pun dimulai jauh-jauh hari. Bukan hanya jadwal puasa sunnah atau target khatam Al-Qur’an, tapi juga cerita indah yang ingin dirajut berdua. Salah satunya soal busana, yang seolah menunjukkan inilah kami sebagai pasangan. Ada rasa ingin tampil serasi tanpa harus berlebihan, dan ingin tampak kompak tanpa kehilangan nuansa kesederhanaan.

Di sinilah tren baju couple kembali menemukan momentumnya. Bukan lagi sekadar seragam kaku seperti dulu, baju couple pasangan kini hadir dengan desain yang lebih dewasa, lebih tenang, warnanya tidak mencolok, dan cutting yang tidak memaksa. Mereka hadir mengalir begiyu saja, seperti suasana Ramadhan yang datang membawa sukacita.

Dan bagi keluarga muda, memilih baju couple keluarga sering menjadi pengalaman tersendiri yang unik. Ada diskusi kecil tentang warna yang cocok untuk ayah, ibu, dan anak. Ada kompromi antara kenyamanan dan tampilan, Ibu yang ingin tampil elegan, dengan flow gamis yang jatuhnya rapi. Sedang Ayah, seperti biasa, ingin yang simpel dan tidak ribet.

Menariknya, proses memilih itu sering menjadi bagian dari persiapan batin. Seolah-olah dengan menyamakan langkah kecil, seperti baju couple yang sesuai dengan karakter mereka berdua, mereka sedang belajar menyamakan irama hidup. Ramadhan bukan hanya soal menahan lapar, tapi juga tentang menyelaraskan diri.

Saya sempat mengamati fenomena ini di beberapa kota. Dari Jakarta sampai kota-kota penyangga. Banyak pasangan muda yang mulai cermat memilih bahan, potongan, dan motif. Mereka tidak lagi tergoda dengan model yang ramai, namun yang mereka cari hanya “cukup”. Cukup adem untuk salat Id di lapangan yang panas, cukup nyaman dan sopan untuk silaturahmi seharian, dan cukup elegan untuk diabadikan dalam momen foto keluarga.

Motif-motif alami pun mulai digemari. Nuansa etnik yang halus, warna-warna bumi yang menenangkan. Salah satunya motif cendana, yang belakangan ini sering muncul dalam koleksi busana keluarga. Ada kesan hangat, bersahaja, sekaligus berkelas, cocok dengan suasana hari raya Idul Fitri yang penuh maaf dan penuh kesederhanaan.

Tanpa banyak disadari, busana menjadi bagian dari narasi keluarga. Foto pertama salat Id Bersama, foto pertama saat anak ikut sungkem. Semua itu akan tersimpan lama, dan bertahun-tahun kemudian, foto itu akan dilihat kembali. Dan busana yang dikenakan akan menjadi penanda zaman sat itu, “Oh, dulu kita begini dan begitu ya.”

Di tengah itu semua, tren keluarga muda sekarang juga semakin selektif. Mereka ingin produk yang rapi, tapi tidak tenggelam, yang detailnya terasa, tapi tidak norak dan terkesan pamer. Mereka ingin tampil serasi tanpa terlihat seperti sedang promosi. Bagi mereka, yang penting adalah rasa nyaman dan kebersamaan itu sendiri.

Ramadhan memang selalu membawa perubahan kecil yang berarti. Jadwal tidur berubah, ritme makan berubah, dan cara keluarga menikmati waktu bersama pun berubah. Busana hanya salah satu elemen pengikatnya. Tapi ia menjadi simbol bahwa sebuah keluarga siap menyambut bulan suci dengan versi terbaik dari diri mereka.

Idul Fitri nanti, ketika pintu rumah terbuka untuk tamu dan sanak saudara, yang terlihat bukan hanya senyum dan hidangan. Ada kekompakan yang terpancar, ada cerita tentang proses, tentang bagaimana sebuah keluarga muda belajar merayakan kebersamaan, setahap demi setahap, menuju jenjang pernikahan berikutnya yang lebih matang, mendalam dan sarat makna.

Anda tertarik? Silakan Klik Disini