Radar Baru, Jakarta – Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) menegaskan komitmennya untuk memastikan setiap pekerja migran Indonesia mendapatkan perlindungan maksimal serta penempatan kerja yang berkualitas, seiring perubahan paradigma dari pekerja low skill menuju medium hingga high skill.

Hal tersebut disampaikan Staf Khusus KP2MI Ilham A. Mustafa dalam UICI Webinar Series Volume 12 bertema “Cerdas Digital di Negeri Orang: Literasi Teknologi untuk Pekerja Migran” yang digelar Universitas Insan Cita Indonesia (UICI) pada Senin (02/02/2026).

Ilham menyampaikan bahwa transformasi KP2MI dari badan menjadi kementerian merupakan pesan tegas dari Presiden Prabowo Subianto bahwa pemerintah memberikan perhatian serius terhadap perlindungan pekerja migran Indonesia.

“Peralihan ini bukan sebatas perubahan kelembagaan, tetapi juga menegaskan kewenangan penuh kepada KP2MI, sehingga tidak hanya menjadi operator, tetapi juga regulator,” ujarnya.

Menurut Ilham, paradigma baru KP2MI kini berorientasi pada dua hal utama, yakni perlindungan yang maksimal dan penempatan yang berkualitas.

Pemerintah ingin memastikan pekerja migran Indonesia tidak hanya ditempatkan untuk bekerja, tetapi juga dibekali kompetensi agar mampu bersaing dan terlindungi secara menyeluruh.

Dalam kesempatan tersebut, Ilham juga menyambut baik gagasan pembelajaran jarak jauh yang dikembangkan UICI untuk menjangkau pekerja migran Indonesia di luar negeri.

“Pembelajaran jarak jauh yang digagas UICI ini efektif untuk mengakomodasi minat dan kebutuhan pekerja migran,” katanya.

Ia mengungkapkan bahwa UICI telah melakukan audiensi dengan KP2MI, yang mendorong agar kemitraan kedua belah pihak dapat berlanjut melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU).

Sementara itu, Dosen Program Studi Informatika UICI Amelia Permata Sari, menyoroti pentingnya literasi digital bagi pekerja migran yang hidup dan bekerja di lingkungan serba digital.

Menurut Amelia, teknologi digital memang membantu pekerja migran dalam berkomunikasi, bekerja, dan mengelola keuangan. Namun, di sisi lain, teknologi juga membawa berbagai risiko.

“Risiko seperti penipuan online, kebocoran data pribadi, hingga hoaks masih sering terjadi. Karena itu, literasi digital menjadi kebutuhan utama bagi pekerja migran,” jelasnya.

Ia memaparkan sejumlah tantangan digital yang kerap dihadapi pekerja migran Indonesia, mulai dari rendahnya pemahaman keamanan digital, mudah tertipu lowongan kerja palsu, ketergantungan pada media sosial dan aplikasi, hingga kebiasaan membagikan data pribadi tanpa disadari.

Amelia menekankan bahwa kecerdasan digital tidak hanya soal kemampuan menggunakan aplikasi, tetapi juga kemampuan memahami cara kerja teknologi, memilah informasi yang benar, melindungi data dan akun pribadi, serta bersikap bijak dan bertanggung jawab di ruang digital.

“Cerdas digital berarti tahu risiko dan tahu cara melindungi diri, seperti menggunakan kata sandi yang kuat, tidak sembarangan mengklik tautan, waspada terhadap phishing, dan mengaktifkan verifikasi dua langkah,” ujarnya.